Hubungan Teori di Kuliah dengan Dunia Kerja
Daftar Isi
Jika mau diingat-ingat ketika kita semua masih di bangku sekolah maupun saat di perguruan tinggi. Waktu yang dihabiskan lebih banyak ke rutinitas "senang-senang", memuaskan keinginan yang tak ada kaitannya dengan jurusan atau bidang yang dijadikan konsentrasi. Saat masih MABA pun tentu kita hanya menjadi mahasiswa/i yang berpuas diri dengan mendengarkan penjabaran panjang lebar dosen, yang tak banyak dimengerti.
Hal-hal itu juga pernah kualami meski setelah di semester 2 dan seterusnya lebih mengkritisi apa yang disampaikan oleh dosen, terlebih dengan jurusan yang kuambil. Di mana manajemen ekonomi lebih sering berkutat dengan perkembangan, baik dari segi kebijakan pemerintah, pertarungan politik, bahkan dalam ekonomi globalnya pun memberikan pengaruh. Namun naasnya, teori yang banyak beredar tak banyak berubah dan tak pernah bisa mengimbangi.
Ekonomi selalu berbicara tentang pendapatan dan kerugian, di mana dalam dunia bisnis pun selalu menekankan pada tujuannya. Perhitungan antara income dan outcome selalu diperhatikan. Selain itu dalam segi manajemen dan perkembangan ekonomi, teori tak bisa mengimbangi kuantitas yang ditargetkan. Begitu pula teori takkan bisa menopang penyelesaian masalah yang ada di dalam perusahaan secara mutlak. Secara tidak langsung teori hanya anggapan dan tesis yang diajukan. Sebaliknya ekonomi adalah fluktuasi nilai uang dan waktu.
Maka setelah cukup lama kuliah dan mencari pembuktian dengan dunia kerja, standar yang termaktub dalam teori para ahli tak lebih dari persepsi. Pendapat yang muncul dikarenakan emperis penulisnya, pengusung teori yang diambil dari antitesa teori yang lain.
Pengetahuan menjadi suatu cara kooptasi keuntungan, keilmiahan, dan tolok ukur pemahaman di kelas saja. Selebihnya untuk dunia praktisi yang selalu bersinggungan dengan deadline, perkembangan teknologi, dan ragamnya keinginan masyarakat. Teori tak bisa dipakai secara utuh, ia hanya madu yang kita tahu bahwa rasanya manis.
Posting Komentar