Dekonstruksi Naratif Distimia, Membedah Dialektika Klinis dan Alienasi Diri dalam Esai Memoar Baek Se-hee
![]() |
| Gambar: Lebih dari sekadar catatan harian psikologis, memoar Baek Se-hee adalah dokumen budaya yang mendekonstruksi fenomena distimia, fungsionalitas superfisial, dan alienasi diri manusia modern. |
Ritus & Langgam, Anotasi - Beberapa tahun terakhir, toko buku dipenuhi oleh memoar yang ditulis bukan oleh pahlawan atau selebritas, melainkan oleh orang biasa yang bergulat dengan kesehatan mental mereka sendiri. Buku-buku ini datang dengan sampul lembut dan judul yang jujur serta kadang canggung, menyerupai pengakuan yang dibisikkan di ruang tunggu psikiater. Salah satu yang paling menonjol dari gelombang ini adalah karya berjudul I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki karya Baek Se-hee. Sebuah buku yang meskipun ditulis dengan bahasa kasual dan penuh percakapan sehari-hari, sebenarnya menyimpan arsitektur pemikiran yang jauh lebih kompleks daripada yang tersirat dari sampulnya.
Artikel ini adalah upaya untuk membaca memoar Baek Se-hee melampaui statusnya sebagai buku pengembangan diri populer. Di balik transkrip dialog yang tampak ringan, terdapat sebuah dokumen budaya yang merekam cara seorang perempuan muda Korea Selatan bernegosiasi dengan gangguan distimia, tekanan sosial untuk tampil sempurna, dan keterasingan yang tumbuh justru di tengah kemampuannya untuk tetap berfungsi secara normal. Untuk membedah lapisan-lapisan ini, artikel ini meminjam kerangka psikologi kognitif Aaron Beck dan sosiologi performa Han Byung-chul. Tujuannya bukan untuk mendiagosis secara klinis, melainkan untuk memahami cara sebuah teks personal bisa menjadi cermin bagi patologi sosial yang lebih luas.
Dari Biblioterapi ke Fenomena Healing Essay
Industri perbukuan Korea Selatan dalam satu dekade terakhir menyaksikan pergeseran yang menarik. Buku-buku nonfiksi yang dulunya didominasi oleh narasi motivasional dan kisah sukses kini berbagi rak dengan teks yang justru merayakan kerentanan. Memoar Baek Se-hee adalah salah satu pelopor pergeseran ini. Karya tersebut membuka pintu bagi diskursus kesehatan mental yang selama ini direpresi oleh stigma sosial, terutama dalam konteks kebudayaan Asia Timur yang cenderung menekan ekspresi penderitaan psikologis.
Apa yang disebut sebagai healing essay, yaitu esai yang ditulis dengan tujuan menyembuhkan baik bagi penulis maupun pembacanya, kini diakui memiliki fungsi biblioterapi yang nyata. Teks-teks ini mampu mengartikulasikan penderitaan psikologis yang spesifik serta memberi nama pada rasa sakit yang sebelumnya hanya mengambang tanpa bentuk. Namun, untuk keperluan artikel ini, fokus akan dibatasi pada satu fenomena klinis yang menjadi inti dari pengalaman Baek Se-hee.
Distimia atau dalam terminologi klinis disebut Gangguan Depresif Persisten berbeda secara fundamental dari depresi mayor yang lebih dikenal publik. Jika depresi mayor melumpuhkan penderitanya secara total hingga membuat mereka tidak bisa bangkit dari tempat tidur, distimia bekerja dengan cara yang lebih halus dan kejam. Distimia memungkinkan penderitanya untuk tetap menjalankan fungsi sosial harian, bekerja, bersosialisasi, bahkan tertawa pada waktunya, namun secara bersamaan merampas kapasitas mereka untuk merasakan kebahagiaan yang autentik. Penderitanya hidup dalam kelumpuhan emosional kronis yang tidak terlihat dari luar. Mereka adalah orang-orang yang tampak baik-baik saja sehingga tidak akan pernah dicurigai sedang berjuang, dan justru di situlah letak kengeriannya.
Transkrip sebagai Struktur Naratif
Salah satu keputusan paling berani yang diambil Baek Se-hee dalam menyusun memoarnya adalah pilihan untuk menyajikan teks dalam bentuk transkrip dialog mentah. Buku ini sebagian besar terdiri dari percakapan antara dirinya dan psikiaternya yang direkam lalu ditulis ulang hampir tanpa filter. Tidak ada narasi yang merangkum serta tidak ada refleksi yang memperhalus. Pembaca ditempatkan langsung di ruang konsultasi untuk mendengarkan percakapan yang seharusnya bersifat privat.
Pilihan struktural ini memiliki konsekuensi yang mendalam. Pertama, transkrip dialog meruntuhkan dinding naratif konvensional yang biasanya bertumpu pada refleksi monolog personal penulis. Dalam memoar pada umumnya, penulis memegang kendali penuh atas ceritanya karena ia memilih apa yang akan diceritakan, cara menyusunnya, dan kesimpulan apa yang akan ditarik. Dalam buku Baek Se-hee, kendali itu terbagi karena psikiater hadir sebagai suara kedua yang secara konstan menginterupsi, mempertanyakan, dan mendekonstruksi setiap pernyataan yang dilontarkan oleh penulis.
Di sinilah letak dinamika yang paling menarik. Psikiater dalam buku ini tidak diposisikan sebagai figur otoriter yang mendikte kesembuhan, melainkan lebih menyerupai katalisator intelektual yang memaksa Baek Se-hee untuk menghadapi bias kognitifnya sendiri. Ketika penulis berkata bahwa ia merasa tidak berharga, psikiater tidak menghiburnya melainkan bertanya mengenai bukti dari pernyataan tersebut. Ketika penulis mengeluh tentang kecemasannya, psikiater membongkar asumsi yang mendasari kecemasan itu. Setiap bab menjadi sebuah rekonstruksi bertahap atas ego yang terfragmentasi sehingga pembaca tidak hanya membaca tentang proses penyembuhan melainkan menyaksikannya secara langsung dalam bentuk percakapan yang mentah dan kadang tidak nyaman.
Paradoks Fungsionalitas Superfisial
Salah satu bagian paling mengganggu dari memoar ini adalah deskripsi Baek Se-hee tentang dirinya sendiri sebagai seseorang yang sepenuhnya fungsional. Ia bekerja di industri penerbitan, bertemu rekan kerja, menyelesaikan tugasnya, dan menikmati makanan kesukaannya yaitu tteokbokki, kue beras pedas yang menjadi judul buku ini. Namun, di balik semua kefungsian itu, ia menyimpan hasrat yang konstan untuk melenyapkan dirinya sendiri. Keinginan untuk mati dan keinginan untuk makan tteokbokki hadir bersamaan sebagai dua impuls yang tampak kontradiktif tetapi sama-sama nyata.
Fenomena ini dalam psikologi bisa dibaca sebagai manifestasi dari splitting ego, yaitu pembelahan ego yang menciptakan dua persona yang hidup berdampingan namun saling bertentangan. Di satu sisi, ada ego luar yang patuh pada tuntutan sosial dengan tampil kompeten serta tersenyum pada waktunya. Di sisi lain, ada ego dalam yang mengalami pembusukan emosional, kelelahan, dan tidak lagi mampu merasakan makna dari semua rutinitas yang dijalaninya.
Yang membuat memoar ini begitu telanjang adalah kejujurannya dalam menggambarkan betapa melelahkannya mempertahankan topeng kefungsian itu. Setiap interaksi sosial adalah pertunjukan, setiap senyum adalah kerja, dan setiap ucapan bahwa ia baik-baik saja adalah kebohongan yang diulang begitu sering hingga hampir menjadi kebenaran. Buku ini memperlihatkan bahwa stabilitas sosial luar tidak pernah menjadi jaminan bagi kedamaian internal karena seseorang bisa berdiri di tengah keramaian namun tetap merasa sepenuhnya sendirian.
Masyarakat Kelelahan dan Komodifikasi Kesehatan Mental
Membaca memoar Baek Se-hee tidak bisa dilepaskan dari konteks sosiologisnya. Korea Selatan adalah salah satu masyarakat paling kompetitif di dunia dengan tekanan akademik dan profesional yang luar biasa tinggi. Standar kecantikan yang kaku, jam kerja yang panjang, dan budaya hierarkis yang menuntut kepatuhan menciptakan lingkungan tempat kelelahan psikologis bukan lagi pengecualian melainkan sudah menjadi norma.
Han Byung-chul, filsuf Korea-Jerman yang menulis tentang apa yang ia sebut sebagai Müdigkeitsgesellschaft atau Masyarakat Kelelahan, menyediakan kerangka yang berguna untuk memahami posisi Baek Se-hee. Menurut Han, masyarakat kontemporer tidak lagi didominasi oleh disiplin eksternal yang memaksa individu untuk patuh. Sebaliknya, kita hidup dalam era tempat individu memaksa diri mereka sendiri. Kita menjadi bos bagi diri sendiri sekaligus mengeksploitasi diri sendiri demi pencapaian prestasi dan pengakuan komunal sehingga kita adalah pelaku sekaligus korban.
Distimia yang dialami Baek Se-hee dalam kerangka ini bisa dibaca sebagai konsekuensi logis dari sistem yang memaksa individu untuk terus-menerus mengukur harga diri mereka melalui produktivitas dan kesempurnaan fisik. Penulis terjebak dalam lingkaran kecemasan karena ia telah menginternalisasi standar tersebut sepenuhnya sehingga ia tidak perlu lagi ditekan dari luar karena ia sudah menjadi penekan bagi dirinya sendiri.
Hal yang lebih ironis adalah cara kesehatan mental itu sendiri mulai mengalami komodifikasi. Dalam masyarakat yang mengukur segala sesuatu dengan metrik kesuksesan, bahkan kebahagiaan pun harus bisa diukur, dioptimalkan, dan dipamerkan. Seseorang harus bahagia dan harus terlihat bahagia, jika tidak maka dianggap ada yang salah dengan dirinya. Narasi ini justru memperparah krisis identitas yang dialami oleh subjek karena Baek Se-hee tidak hanya menderita karena ia tidak bahagia, melainkan ia menderita karena ia merasa bersalah atas ketidakbahagiaannya itu.
Rasa Bersalah, Ambivalensi, dan Penerimaan Diri Parsial
Konflik naratif di dalam memoar ini tidak bergerak menuju resolusi yang klise. Tidak ada momen pencerahan dramatis atau kesembuhan instan di halaman terakhir. Yang ada adalah pergulatan yang lambat, berulang, dan kadang melelahkan dengan tiga emosi yang saling bertautan.
- Pertama adalah rasa bersalah yang tidak rasional. Baek Se-hee berulang kali mengungkapkan perasaan bersalah atas kelemahannya sendiri seolah-olah mengalami depresi adalah sebuah kegagalan moral. Ia merasa bersalah karena tidak bisa bahagia, bersalah karena menjadi beban bagi orang lain, dan bersalah karena tidak cukup bersyukur. Rasa bersalah ini tidak memiliki dasar logis namun nyata dan menggerogoti.
- Kedua adalah ambivalensi keinginan. Judul buku ini sendiri adalah ekspresi paling jujur dari ambivalensi itu karena keinginan untuk mati dan keinginan untuk menikmati hal-hal kecil dalam hidup hadir bersamaan serta saling bertentangan namun sama-sama autentik. Tidak ada yang lebih dominan dan tidak ada yang bisa diabaikan. Ambivalensi ini adalah kondisi yang sangat manusiawi tetapi juga sangat melelahkan untuk dijalani.
- Ketiga adalah proses penerimaan diri yang berjalan sangat lambat dan parsial. Baek Se-hee tidak pernah mengklaim bahwa ia telah sembuh total, ia hanya menyatakan bahwa ia belajar untuk hidup berdampingan dengan rasa sakitnya. Inilah yang membedakan memoar ini dari buku-buku motivasi arus utama yang menjanjikan transformasi total. Pemulihan di sini bukanlah tentang mencapai titik tempat semua luka sembuh, melainkan tentang mencapai titik tempat luka tidak lagi mendefinisikan seluruh keberadaan hidup Anda.
Membaca Tegangan Retoris dalam Bahasa Kasual
Untuk menguliti kedalaman buku ini secara kritis, diperlukan metodologi yang spesifik bagi teks nonfiksi dialogis. Tidak cukup hanya membaca apa yang dikatakan, melainkan kritikus harus membaca cara hal itu dikatakan dan apa yang tidak dikatakan.
- Pertama, ada analisis retorika bahasa domestik. Baek Se-hee menggunakan kosakata sehari-hari dan metafora kuliner seperti tteokbokki, kopi, dan makanan jalanan untuk menjembatani kompleksitas diagnosis klinis psikiatri. Ini adalah pilihan yang cerdas karena dengan menggunakan bahasa yang akrab, ia membuat pembaca yang tidak memiliki latar belakang psikologi tetap bisa memahami pengalamannya. Tteokbokki bukan sekadar makanan melainkan simbol dari keinginan kecil untuk tetap hidup di tengah kegelapan.
- Kedua, ada kajian subteks dalam jeda percakapan. Dalam transkrip dialog, hal yang tidak kalah penting dari kata-kata adalah keraguan, pengulangan, dan keheningan. Tanda baca seperti elipsis, kalimat yang terputus, dan momen ketika penulis tidak bisa menjawab pertanyaan psikiater adalah petunjuk berharga tentang resistensi psikologis yang sedang bekerja sebagai penanda wilayah traumatis yang belum siap dimasuki.
- Ketiga, ada analisis struktur non-linear jurnal. Bab-bab dalam buku ini tidak disusun berdasarkan kronologi waktu biologis yang jelas dari minggu pertama hingga minggu terakhir terapi. Sebaliknya, bab disusun berdasarkan intensitas konflik emosional yang sedang bergolak. Hal ini mencerminkan cara kerja ingatan traumatis yang juga tidak linear, melompat-lompat, dan kembali ke titik yang sama berulang kali sebelum akhirnya bisa bergerak maju.
Kritik Terhadap Repetisi Naratif
Sesuai dengan ketentuan regulasi analisis dan kritik sastra yang mewajibkan setiap kritik untuk mengidentifikasi kelemahan secara spesifik, ada satu catatan yang perlu disampaikan tentang buku ini. Pada sepertiga akhir, transkrip dialog cenderung mengalami repetisi tematik yang jenuh. Penulis mengulangi kecemasan yang sama, mengajukan pertanyaan yang sama, dan menerima tanggapan yang serupa dari psikiaternya tanpa ada perkembangan kesadaran baru yang signifikan. Narasi terasa berputar di tempat, dan meskipun ini mungkin mencerminkan realitas terapi yang sesungguhnya bahwa kemajuan sering kali lambat, dari sudut pandang sastra repetisi ini melemahkan daya dorong naratif.
Sebuah alternatif yang bisa dipertimbangkan untuk memoar sejenis di masa depan adalah penajaman refleksi esai kontekstual di setiap akhir bab transkrip. Penulis tidak harus hanya mengandalkan catatan harian subjektif, melainkan akan lebih kuat jika setiap transkrip dialog diikuti oleh esai personal yang mengaitkan pengalaman klinis pribadi dengan pembacaan struktural atas isu sosial-budaya di sekitarnya. Langkah ini akan mencegah teks jatuh menjadi catatan keluhan yang monoton sekaligus meningkatkan nilai memoar sebagai dokumen kritik kebudayaan.
Melampaui Label Buku Populer
I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki berhasil melakukan sesuatu yang jarang dicapai oleh buku dalam genre healing essay sehingga mampu menaikkan kelas literatur memoar populer menjadi sebuah teks kritik sosial yang berbobot. Melalui perkawinan antara transkrip klinis dan esai personal, Baek Se-hee memperlihatkan wajah asli dari penderitaan manusia modern. Bukan penderitaan yang dramatis dan sinematik, melainkan penderitaan yang tenang dan tersembunyi di balik rutinitas harian yang tidak terdeteksi oleh orang-orang terdekat.
Kejujuran buku ini terletak pada penolakannya untuk menawarkan solusi yang mudah. Tidak ada resep kebahagiaan di halaman terakhir, yang ada hanyalah pengakuan bahwa hidup dengan distimia adalah kerja keras yang terus-menerus, bahwa beberapa luka mungkin tidak akan pernah sepenuhnya sembuh, dan bahwa kondisi itu tidak apa-apa. Kemenangan tidak selalu berarti kesembuhan total karena kadang kemenangan adalah bisa bangun dari tempat tidur di pagi hari dan memutuskan untuk menikmati hidangan sekali lagi.
Catatan Sumber
Artikel analisis ini dibangun berdasarkan sintesis teoretis dari tiga sumber utama. Pertama, prinsip psikologi kognitif Aaron Beck mengenai trias kognitif depresi yang membedah pandangan negatif terhadap diri sendiri, dunia, dan masa depan sebagai fondasi memahami distorsi kognitif dalam dialog Baek Se-hee. Kedua, konsep sosiologi kontemporer Han Byung-chul dalam buku The Burnout Society edisi 2010 yang membedah fenomena Masyarakat Kelelahan tempat individu mengeksploitasi diri sendiri akibat tekanan sistem sosial. Ketiga, pembacaan tekstual secara mendalam terhadap buku I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki jilid pertama karya Baek Se-hee dengan fokus pada struktur transkrip, pilihan metafora domestik, dan pola kronologi non-linear.

Posting Komentar