Mencari Jalan Pulang Peradaban: Demokrasi, Konflik, dan Hikmah Leluhur

Daftar Isi
Demokrasi, Konflik, dan Hikmah Leluhur
Gambar: Ilusterasi Mencari Jalan Pulang Peradaban, dibuat di Canva

Ritus & Langgam, Wacana — Dibandingkan dengan perjalanan panjang peradabannya, Indonesia sebenarnya baru seumur jagung mengenal demokrasi modern. Namun hari ini, kita justru terjebak dalam upaya menyeragamkan cara pandang di tengah keberagaman watak, budaya, dan pengalaman setiap daerah.

Ketika menghadapi konflik, perhatian kita terlalu sering tersedot oleh strategi politik modern, seolah semua jawaban hanya lahir dari teori masa kini. Padahal, jauh sebelum demokrasi barat diperkenalkan, nenek moyang kita telah mewariskan kompas untuk bertahan hidup, berdamai, dan menjaga keseimbangan alam selama berabad-bebad.

Ironisnya, kita begitu sibuk memperdebatkan sistem hingga lupa mengevaluasi kesalahan yang terus berulang. Kita lebih gemar memburu bentuk pemerintahan yang sempurna daripada memahami hakikat manusia yang mengoperasikannya. Padahal pada akhirnya, yang menentukan keberlangsungan suatu bangsa bukanlah nama sistem yang dianut, melainkan kapasitas manusianya dalam menjaga nilai kemanusiaan saat berhadapan dengan krisis dan konflik.

Demokrasi mungkin bisa dipelajari dalam hitungan dasawarsa, tetapi kebijaksanaan untuk bertahan hidup adalah warisan yang ditempa oleh ribuan tahun pengalaman. Ketika bangsa ini melupakan pelajaran dari akar peradabannya sendiri, saat itulah ia berisiko kehilangan arah di tengah megahnya sistem yang dianggap paling modern.

Kita tidak sedang menyalahkan sistem negara ini. Namun, harus ada kepekaan dari para pemangku kebijakan untuk melahirkan keputusan yang konkret demi rakyat (of the people, by the people, for the people). Kegagalan yang kita saksikan di berbagai sektor hari ini terjadi karena kita abai melakukan evaluasi yang jujur. Kita lupa memikirkan bagaimana negara ini harus bangkit dengan berpijak pada akar sejarahnya sendiri.

Mari kita ambil contoh sektor pertanian dan penguatan pangan. Jika kita mau merunduk dan belajar dari Suku Baduy dalam mengelola produksi padi melalui konsep lumbung (leuit) yang terbukti kebal krisis, Indonesia sangat berpotensi menjadi negara dengan "algoritma pangan" terkuat di dunia.

Kearifan mutakhir ini bukan cerita fiksi. Sejarah mencatat kita memiliki sistem Subak di Bali yang kini diakui sebagai Warisan Dunia oleh UNESCO, bukti nyata bagaimana manajemen air dan resolusi konflik agraria bisa diselesaikan secara demokratis oleh masyarakat adat. Kita juga memiliki tradisi Sasi di Maluku dan Papua yang mengontrol ketahanan pangan laut melalui hukum adat kelestarian, serta Pranata Mangsa di Jawa yang membaca tanda semesta untuk akurasi pertanian.

Ini baru dari sektor agraria dan maritim. Jika seluruh potensi Sumber Daya Alam (SDA) dikelola dengan hikmah lokal yang mengakar pada prinsip gemah ripah loh jinawi ini, Indonesia bukan mustahil akan berdiri sebagai negara terkuat nomor satu di dunia. Kita hanya perlu menemukan jalan pulang menuju kebijaksanaan peradaban kita sendiri.

Ditulis oleh Mifta WS, Advokat muda dan praktisi hukum

Ritus & Langgam
Ritus & Langgam Redaksi Ritus & Langgam. Kami menghormati membaca sebagai ritus dan menulis sebagai langgam. Tempat keresahan menemukan bentuknya.

Posting Komentar