Mengapa Ritus dan Langgam? Sebuah Catatan Personal

Daftar Isi

Ilustrasi secarik kertas dengan coretan nama "Ritus & Langgam" dan beberapa kata lain yang dicoret.
Gambar: Catatan personal tentang pemilihan nama Ritus & Langgam. Ilustrasi redaksi.

Ritus & Langgam, Monolog - Saya tidak pernah membayangkan bahwa memilih nama untuk sebuah platform bisa sesulit ini. Ide tentang ruang untuk menulis dan membaca sebenarnya sudah ada sejak 2018 ketika saya masih di Kulonprogo menjalani Kuliah Kerja Nyata. Waktu itu, nama yang terlintas hanya sekadar label yang menempel tanpa makna lebih. Saya tidak memikirkan bobot filosofis, tidak memikirkan resonansi, dan tidak memikirkan apakah nama itu akan terasa masih relevan dalam waktu lima atau sepuluh tahun ke depan. Saya hanya ingin memiliki sebuah blog pribadi sehingga lahirlah blog versi Blogger dengan nama yang sama sekali berbeda dengan platform saat ini.

Tahun 2026, ketika saya memutuskan membangun ulang fondasi platform secara menyeluruh, pertanyaan tentang nama muncul kembali ke permukaan. Apakah saya harus memakai nama lama atau mencari nama yang baru. Saya duduk berjam-jam sambil menuliskan kata demi kata di selembar kertas kosong. Kata-kata yang keluar dari pengalaman membaca dan menulis saya selama ini, kata-kata yang saya harap bisa menangkap esensi sejati dari apa yang ingin saya bangun. Dari sekian banyak pilihan, dua kata yang akhirnya bertahan adalah Ritus dan Langgam.

Makna Filosofis di Balik Ritus dan Langgam

Ritus sebagai Tindakan Sakral

Ritus dalam pengertian yang paling sederhana adalah tindakan terstruktur yang dilakukan dengan perhatian penuh. Sebuah ritus tidak pernah dilakukan secara tergesa-gesa karena ia memiliki urutan, memiliki makna, dan menuntut kehadiran utuh dari manusia yang menjalaninya. Saya ingin platform ini menjadi tempat membaca yang tidak dilakukan sambil lalu atau dilakukan dengan setengah perhatian sambil menggulir media sosial. Membaca bagi saya adalah tindakan sakral yang mempertemukan kesadaran pembaca dengan teks. Proses ini membutuhkan waktu, membutuhkan ketenangan, serta membutuhkan keberanian untuk tidak segera mengambil simpulan sepihak.

Saya ingat bagaimana dulu ketika masih kecil, membaca buku adalah kegiatan yang saya lakukan dengan duduk manis di lantai rumah sambil menekuk lutut serta membiarkan halaman demi halaman berlalu tanpa tergesa. Tidak ada target berapa halaman yang harus habis dalam sehari dan tidak ada rasa bersalah jika tidak menyelesaikannya dalam satu malam. Hanya ada aktivitas membaca dan membiarkan kata-kata masuk perlahan ke dalam pikiran yang mana merupakan ritus yang ingin saya jaga di platform ini.

Langgam sebagai Keberagaman Suara Authentik

Langgam berarti irama, gaya, atau corak khas yang melekat pada personal. Setiap penulis memiliki langgamnya sendiri sehingga tidak ada dua langgam yang persis sama sebagaimana tidak ada dua suara manusia yang persis kembar. Platform ini tidak bertugas menyeragamkan langgam tulisan melainkan memberinya sebuah panggung yang layak. Saya tidak ingin menjadi editor yang memaksa setiap tulisan mengikuti templat yang kaku melainkan menjadi kurator yang menilai apakah sebuah karya berhasil menjadi dirinya sendiri, apakah karya itu jujur terhadap langgamnya, dan apakah langgam itu dijalankan dengan keterampilan yang memadai.

Kata langgam juga mengingatkan saya pada pengalaman mendengarkan musik dalam sebuah orkestra tempat setiap alat musik memiliki iramanya sendiri. Biola tidak berusaha menjadi piano dan seruling tidak berusaha menjadi drum. Mereka masing-masing memainkan bagiannya sendiri dan ketika semuanya berjalan harmonis, tercipta sesuatu yang lebih besar dari jumlah bagian-bagiannya. Saya membayangkan Ritus & Langgam seperti itu, yaitu sebuah kumpulan suara yang berbeda yang masing-masing berharga tanpa perlu meniru yang lain.

Menghadapi Keraguan dan Melahirkan Bentuk Keresahan

Saya sempat ragu apakah kata ritus tidak terdengar terlalu kaku atau apakah kata langgam tidak terasa terlalu asing bagi telinga pembaca Indonesia masa kini. Saya mencoba bertanya pada beberapa teman ketika sebagian dari mereka mengernyitkan dahi dan sebagian lagi bertanya tentang artinya. Namun saya memutuskan untuk tidak mengganti kata-kata tersebut dengan diksi yang lebih umum karena Ritus dan Langgam adalah dua kata yang paling tepat. Mereka tidak populer namun mereka jujur, mereka tidak mudah dilupakan tetapi juga tidak berteriak meminta perhatian publik.

Tagline tempat keresahan menemukan bentuknya lahir kemudian setelah nama platform ditetapkan secara resmi. Saya butuh satu kalimat padat yang bisa merangkum seluruh semangat platform ini. Keresahan adalah bahan mentahnya, sedangkan menulis adalah proses memberi bentuk pada keresahan itu dan Ritus & Langgam adalah ruang tempat proses kreasi itu terjadi.

Tidak semua keresahan akan menjadi tulisan yang layak terbit karena sebagian hanya akan menjadi catatan usang di buku harian atau menghilang begitu saja. Namun keresahan yang bertahan, yang terus muncul kembali, dan yang memiliki cukup kedalaman untuk digali akan menemukan bentuk estetikanya di sini.

Saya tidak tahu apakah nama ini akan bertahan selamanya karena mungkin suatu hari nanti ada yang mengusulkan nama lain yang jauh lebih baik. Namun untuk saat ini, bagi platform yang baru mulai bertumbuh ini, Ritus & Langgam adalah nama yang paling pas. Nama ini mengingatkan saya setiap hari tentang apa yang paling penting dalam dunia literasi, yaitu membaca dengan perlahan, menulis dengan jujur, dan memberi ruang bagi setiap langgam unik untuk berbunyi secara merdeka.

Yogyakarta, 13 Juni 2026

— Pranoto Jiwo

Catatan Sumber

Tulisan ini berdasarkan catatan pribadi penulis tentang proses pemilihan nama Ritus & Langgam. Tidak ada sumber eksternal yang dirujuk. Untuk dokumentasi lebih lanjut tentang filosofi nama, lihat halaman Tentang Ritus & Langgam di situs ini. 

Ritus & Langgam
Ritus & Langgam Redaksi Ritus & Langgam. Kami menghormati membaca sebagai ritus dan menulis sebagai langgam. Tempat keresahan menemukan bentuknya.

Posting Komentar