Serial Kitab Perjanjian: Mitos dari Adagium dan 7 Puisi Lainnya

Daftar Isi
Ilustrasi bernuansa kontemplatif dengan palet warna hangat yang menampilkan seseorang sedang menatap rasi bintang, melambangkan perjalanan reflektif antara doa, waktu, dan pencarian ketabahan.
Gambar: Ilusterasi Mitos dari Adagium dan 7 Puisi lainnya, dibuat dan dihasilkan menggunakan Gemini

Ritus & Langgam, Resonansi — Kumpulan karya ini merupakan sebuah perjalanan kontemplatif yang merajut titik temu antara kerinduan manusiawi dan penyerahan diri kepada Sang Pencipta. Dengan diksi yang dipilih secara presisi, setiap bait dalam naskah ini berupaya membangun ruang resonansi yang jujur, di mana waktu, doa, dan ketabahan menjelma menjadi napas yang menyatu dalam rima dan makna. Melalui perpaduan antara refleksi personal dan ketenangan estetik, naskah ini mengajak pembaca untuk berpulang pada keteguhan hati di tengah segala keterbatasan yang melekat pada manusia.

Mukadimah

Yogyakarta, 16 Maret 2021

Nafas panjang makna mendalam
dari tawassul dan basmalah
aku berserah dan bersaksi
segala urusan telah dituliskan
dalam sejarah dan waktu penciptaan.

Langit merapalkan doa-doa
dan Bumi mengamini segala kebaikan.
Bersyukur atas banyak kejadian
tanpa lupa apa yang diciptakan
tak lebih dari ujian dan pengingat.

Untuk keterbatasan dan ketidakmampuan
milik setiap hamba. Berpulang dan membumi.
Kepada-Nya segala kebaikan dihaturkan
dengan kalam dan salam.
Untuk keterbatasan milik manusia
dan kesempurnaan milik-Nya.

Doa dan Segala Semoga

Yogyakarta, 05 April 2021

Dan kamu adalah rindu,
menjelma tubuh di rona mataku.
dalam doa dan segala semoga
untukmu segala setia tak sirna.
Kini dan nanti, tetap abadi.

Merapal Doa

Bantul, 29 Maret 2021

Malam ini, aku ingin meminum kopi
ditemani kamu yang duduk manis
sesekali bercerita tentang waktu pulang
dan di banyak waktu diam, merapal doa
seraya berkata:

Kita adalah musim semi
mewangi harum aroma kasturi
untuk ketabahan hati
biarkan menjelma abadi
tentang segala yang ditetapkan sebelum mati.

Sebelum Bulan Berpuasa

Yogyakarta, 07 April 2021

1/

Di langit malam dan batas khatulistiwa
senyummu serupa Sirius yang tiba
pada waktu subuh ia melepas segala
tentang rasi bintang yang luput dibaca.

2/

Sebelum bulan berpuasa
jadikan beban yang mengekang
sebagai pertanda bahwa cinta
adalah alasan mengapa perasaan
tak mudah diungkapkan.

Sebelum bulan benar-benar berpuasa
Jadilah ikhtisar dan ikhtiar seperti
lambang suci doamu penuh
di sepanjang waktu tak luruh.
Menyatu seluruh, padamu dan Tuhanmu.

3/

Aku dan kamu adalah kenyataan
tak perlu diperdebatkan masa lalu
sebab kita adalah tualang
yang sudah tiba lebih dulu di masa depan.

Tentang lukamu dan hal-hal yang pernah menyakitiku
biarkan Tuhan menyembuhkan dengan cinta
dan ketabahan-ketabahan. Untuk segala
doa, upaya, dan cinta.
Serial ini ditulis oleh Pranoto Jiwo yang termuat dalam Kitab Perjanjian, salah satu kumpulan puisi yang dibuatnya.
Ritus & Langgam
Ritus & Langgam Redaksi Ritus & Langgam. Kami menghormati membaca sebagai ritus dan menulis sebagai langgam. Tempat keresahan menemukan bentuknya.

Posting Komentar