Ruang Kayang & Hujan Rindu yang Syahdu Karya Kang Thohir

Daftar Isi

Puisi Ruang Kayang dan Hujan Rindu yang Syahdu karya Muhammad Thohir dari Brebes
Gambar: Ilusterasi puisi karya Kang Thohir, Ruang Kayang & Hujan Rindu yang Syahdu

Ritus & Langgam, Resonansi — Dalam setiap karya tulis, terdapat irama yang dibawa oleh penulisnya. Irama ini merupakan langgam yang lahir dari kedekatan dengan tanah kelahiran dan akumulasi pengalaman batin. Kali ini, Ritus & Langgam menghadirkan kiriman kontributor dari Muhammad Thohir, seorang penulis yang meniti jalan sastra dari keseharian sebagai seorang petani di Desa Kupu, Brebes.

Melalui dua puisi yang bertajuk Ruang Kayang dan Hujan Rindu yang Syahdu, Muhammad Thohir menyajikan dua corak perenungan yang berbeda. Puisi pertama merupakan sebuah penelusuran atas keterasingan dalam ruang megah, sedangkan puisi kedua adalah sebuah catatan memori yang menetap di peron stasiun. Keduanya merupakan upaya jujur dalam merawat keresahan menjadi bentuk estetika.

Berikut adalah karya kiriman Muhammad Thohir atau bisa disapa dengan nama pena Kang Thohir

RUANG KAYANG

Brebes, 13 Juni 2026

Bidik membidik ruang kayang
langit-langit istana yang terlalu tinggi
untuk gema langkah kaki biasa.
Aku diundang masuk, tetapi pintu-pintu
selalu tertutup di belakangku

Bagai mentari di ujung senja
Berduri ras terpatri
Di balik misteri
Ruang hampa mendeskripsikan diri sendiri

HUJAN RINDU YANG SYAHDU

Brebes, 13 Juni 2026

Hujan deras di ujung senja ini
seperti rambut Anindya yang basah
ketika terakhir kali kami bertemu di peron stasiun —
kereta melaju, dan dia tetap berdiri di sana.
Aku masih ingat warna jas hujan merah mudanya,
dan bagaimana ia melambaikan tangan,
bukan untuk mengucapkan selamat tinggal,
tetapi untuk berkata: "Aku akan menunggu."

TENTANG PENULIS: Muhammad Thohir, atau yang akrab disapa Kang Thohir, adalah seorang pegiat literasi asal Desa Kupu, Kecamatan Wanasari, Brebes. Ia tumbuh besar dalam lingkungan agraris sebagai keluarga petani. Ketertarikannya pada dunia tulis-menulis telah tumbuh sejak bangku sekolah dasar dan terus diasah hingga masa pesantren. Kini, ia aktif menuangkan gagasan melalui puisi dan cerpen, serta terus memperluas wawasan melalui kegemarannya membaca buku.
Ritus & Langgam
Ritus & Langgam Redaksi Ritus & Langgam. Kami menghormati membaca sebagai ritus dan menulis sebagai langgam. Tempat keresahan menemukan bentuknya.

Posting Komentar