Tapi, Tahukah Engkau? Fragmen dari Ruang Pranoto Jiwo
Daftar Isi
Berikut puisinya:
Tapi...Tahukah engkau?Seindah apapun pelangi,akhirnya sirna juga.Namun...Ia tetap melekat di ingatan,seperti halnya nama danaroma tubuhmu yangmenyeruak penuhikepalaku.
Saya menulis kalimat sederhana di awal slide itu sebagai balasan atas unggahan di TikTok beberapa hari lalu. Unggahan itu mengingatkan saya pada sebuah film yang pernah diperankan oleh Dinda Hauw dan Christ Laurent. Film itu berjudul Seandainya. Saya tidak ingat persis tahun rilisnya, tetapi saya masih duduk di bangku sekolah menengah kala pertama kali menontonnya.
Saya ingat betul di mana saya menontonnya. Ruang tamu rumah sederhana di kampung. Lantai beralas tikar jerami anyaman daun pandan yang wangi khas. Wangi itu sampai sekarang masih bisa saya bayangkan. TV berukuran 14 inci, merek Panasonic jika tidak salah. Layarnya tidak terlalu jernih, kadang ada garis-garis hitam jika antena tidak diatur dengan tepat. Tapi itu tidak mengurangi getaran film yang masuk ke dalam dada.
Di ruang tamu yang sempit itu, di atas tikar pandan yang beraroma harum, saya mengalami apa yang kemudian saya sadari sebagai katarsis dan resonansi emosional. Saya tidak tahu istilah itu saat SMP. Saya hanya tahu bahwa setelah film selesai, saya terdiam cukup lama. Tidak menangis, tidak tersenyum. Saya hanya duduk di atas tikar pandan, menatap layar televisi yang sudah berubah menjadi gemericik statis, dan merasakan ada sesuatu yang berubah di dalam diri. Sesuatu yang tidak bisa saya jelaskan dengan kata-kata yang saya miliki saat itu.
Film Seandainya bercerita tentang Cinta, seorang perempuan yang ayahnya tunarungu-wicara. Kehidupan mereka tidak mudah. Ada rintangan, ada kesunyian yang hanya bisa dipecahkan dengan bahasa isyarat dan kesabaran tanpa batas. Jujur, saat pertama menonton, saya tidak sepenuhnya menangkap semua lapisan cerita. Yang saya ingat adalah perasaan aneh yang mengganjal di dada setelah film usai. Bukan kesedihan biasa. Lebih seperti tersentuh oleh sesuatu yang tidak bisa saya beri nama.
Tapi waktu tidak berhenti. Saya tumbuh dewasa, menonton lebih banyak film, membaca lebih banyak buku, dan mengalami sendiri apa artinya kehilangan, mencintai, dan gagal. Barulah kemudian saya menyadari bahwa film Seandainya telah menanamkan benih hyper empathy jauh sebelum saya tahu istilah itu. Kemampuan untuk merasakan apa yang orang lain rasakan, melampaui logika. Saya merasakan beban yang dipikul Cinta. Saya merasakan kesepian sang ayah yang tidak bisa mendengar suara anaknya. Saya merasakan cinta yang diucapkan bukan dengan kata, tetapi dengan isyarat tangan dan tatapan mata. Itu semua membekas begitu dalam, meski butuh bertahun-tahun bagi saya untuk menyadari betapa pentingnya tayangan itu dalam membentuk cara saya memahami penderitaan orang lain.
Meski kesadaran itu datang bertahun-tahun kemudian, saya sungguh berterima kasih. Film itu membuat saya mengerti bahwa hidup ini pelik. Bahwa ada orang-orang yang hidup dengan ketidakmungkinan setiap hari, dan mereka tetap bertahan. Bahwa cinta tidak selalu perlu diucapkan, bahwa kehadiran dan kesetiaan adalah bentuk cinta yang paling tak terbantahkan. Film Seandainya mengajarkan tentang bagaimana Cinta dan ayahnya yang tunarungu-wicara menjalani hidup dan menerima segala kesunyian di dalamnya.
Saya ingin berbagi bagaimana perasaan kala itu kepada kalian semua. Bagaimana kisah dan perjuangan dari Cinta melawan segala ketidakmungkinan yang ada di hidupnya. Saya ingin mengemas seluruh cerita yang ada di film Seandainya menjadi sebuah bacaan yang layak. Bukan untuk menggurui, tetapi untuk mengingatkan bahwa film-film lama sering menyimpan kebijaksanaan yang tidak akan lekang oleh waktu.
Namun, untuk menulis ulasan yang jujur dan mendalam, saya harus kembali menonton Seandainya. Ingatan saya tentang film itu sudah berserak. Ada adegan yang masih jelas, ada yang samar, ada yang hanya berupa rasa tanpa gambar. Saya perlu mengumpulkan kembali potongan-potongan itu. Menonton ulang film ini sebagai orang dewasa, dengan perspektif yang jauh berbeda dari saat SMP. Perasaan pertama kali menonton tidak bisa diulang, tetapi saya bisa mendekatinya dengan kesadaran yang lebih matang.
Di benak pikirku, fragmen ini seperti kilas balik yang mengingatkan akan dirimu. Berputar dari satu cerita ke cerita yang lain, persis seperti kisah yang dialami Cinta dalam film Seandainya. Katarsis dan resonansi ketika menonton film itu masih melekat, seakan-akan baru kemarin saya putar dan tonton. Kisah hidup Cinta, yang diperankan Dinda Hauw, memberikan dampak luar biasa. Dengan segala ketidakmungkinan dan kesukaran yang dialaminya, film ini benar-benar hidup.
Saya sangat ingin mengulas dari berbagai aspek. Tapi harus kembali menonton dan mengumpulkan ingatan yang berserak, karena bagaimanapun perasaan saat pertama kali menonton merupakan hal berharga yang tidak bisa diulang lagi. Meski begitu, saya akan tetap berusaha dengan baik menghadirkan apa yang saya rasakan kala itu. Saya akan menulis catatan demi catatan, adegan demi adegan, hingga semuanya utuh.
Saya juga harus mencari tahu lagu latarnya. Saya ingat, ada lagu yang mengiringi adegan-adegan paling emosional. Dari ingatan samar, penyanyinya adalah band bernama The Radio. Saya mencoba mencari di Spotify. Ada band bernama Radio Band, tetapi saya tidak yakin apakah itu band yang sama. Saya akan terus menelusuri, karena informasi yang keliru tidak boleh hadir dalam ulasan nanti. Ini soal tanggung jawab. Saya tidak ingin pembaca mendapatkan fakta yang salah hanya karena saya malas verifikasi.
Saya berharap nanti bisa menemukan The Radio yang pernah membawakan original soundtrack film Seandainya, sehingga tidak ada kekeliruan informasi saat saya mengulas filmnya nanti. Jika tidak ditemukan, saya akan menyatakan secara jujur bahwa lagu tersebut belum berhasil diidentifikasi. Itu lebih baik daripada memaksakan dugaan.
Semoga catatan proses ini menjadi sesuatu yang membuka dan membawa saya pada ruang sunyi dalam hidup Cinta dan ayahnya. Sampai jumpa di ulasan mendatang. Saya akan kembali menonton Seandainya, mencatat setiap adegan, menghidupkan kembali katarsis yang dulu sempat membisu. Saya akan membawakan cerita ini dengan sebaik-baiknya.
Sekarang, mari kita beralih ke bagian fragmen ini sebagai penutup sementara. Bagi yang ingin ikut bernostalgia, film Seandainya mungkin masih bisa ditemukan di beberapa platform digital atau toko DVD bekas. Saya sendiri akan mencari tayangan ulangnya minggu ini. Doakan saya menemukan The Radio yang menyanyikan lagu latarnya, dan semoga tidak ada kekeliruan informasi saat saya mengulas nanti.
Karena pada akhirnya, fragmen ini bukan sekadar catatan proses. Ia adalah janji pada diri sendiri untuk tidak melupakan apa yang pernah menggetarkan. Dan semoga, ketika ulasan lengkapnya terbit, ia bisa menjadi teman diskusi yang hangat bagi siapa pun yang juga pernah menangis di ruang tamu sederhana, di atas tikar pandan, di hadapan televisi 14 inci yang berisik.
Catatan Sumber
Fragmen ini ditulis berdasarkan ingatan pribadi tentang film Seandainya (pemeran: Dinda Hauw, Christ Laurent) serta pengalaman menonton di rumah masa kecil. Lagu latar yang disebutkan (The Radio) masih dalam proses verifikasi. Tidak ada sumber cetak yang dirujuk.
Tulisan ini dibuat oleh Pranoto Jiwo sebagai bentuk refleksi di kanal pribadinya

Posting Komentar