Demonstrasi Tidak Pernah Lahir dari Jalanan
Ritus & Langgam, Wacana - Ada satu hal yang belakangan ini terus mengganggu pikiran saya. Mengapa setiap kali ribuan mahasiswa memenuhi jalan raya, perhatian kita hampir selalu berhenti pada keramaian yang tampak di depan mata? Kamera diarahkan kepada massa yang berbaris, spanduk yang dibentangkan, pagar kawat yang dipasang berlapis, hingga bentrokan yang sesekali tak dapat dihindarkan. Seolah-olah demonstrasi lahir tepat ketika kaki-kaki mulai menginjak aspal.
Padahal saya percaya, jalan tidak pernah melahirkan demonstrasi.
Jalan hanya menjadi tempat di mana kegelisahan akhirnya menemukan wujudnya. Sebelum sebuah poster ditinggikan ke udara, selalu ada percakapan yang berlangsung diam-diam di ruang kelas, kantin kampus, sekretariat organisasi, perpustakaan, hingga sudut-sudut kota yang mungkin tak pernah disorot kamera. Di sana orang-orang mulai bertanya, mempertanyakan, lalu mencoba memahami mengapa sesuatu yang mereka anggap keliru terus berulang tanpa pernah benar-benar memperoleh jawaban.
Bukankah setiap kegaduhan selalu memiliki riwayatnya sendiri?
Saya sulit membayangkan seseorang bangun pada pagi hari lalu memutuskan turun ke jalan hanya karena ingin berteriak di depan gedung pemerintahan. Keputusan meninggalkan ruang kuliah, pekerjaan, bahkan waktu bersama keluarga bukanlah perkara yang lahir dalam satu malam. Ada akumulasi pengalaman yang perlahan menumpuk, seperti air yang terus mengisi sebuah wadah hingga akhirnya meluap ketika tak lagi menemukan ruang untuk ditampung.
Karena itu, demonstrasi sesungguhnya lebih dekat dengan akibat daripada sebab. Ia bukan awal dari sebuah persoalan, melainkan penanda bahwa berbagai persoalan telah terlalu lama berjalan tanpa penyelesaian yang memuaskan.
Gelombang demonstrasi mahasiswa pada 2026 memperlihatkan kenyataan tersebut. Berbagai tuntutan mengenai kebijakan energi, pengelolaan anggaran negara, pendidikan, hingga hubungan antara sipil dan militer bukanlah daftar yang muncul secara tiba-tiba. Semua itu telah lebih dahulu hidup dalam ruang-ruang diskusi, kajian, laporan penelitian, dan percakapan yang mungkin tidak pernah sampai ke hadapan para pengambil keputusan. Jalan raya hanya menjadi tempat ketika seluruh kegelisahan itu tidak lagi bersedia disimpan sendiri.
Saya kemudian teringat bahwa sejarah Indonesia hampir selalu memiliki cara yang sama untuk mengingat mahasiswanya.
Ada generasi 1966 yang percaya perubahan harus diperjuangkan. Ada Malari 1974 yang memperlihatkan bagaimana kritik dapat bertemu dengan kekuasaan dalam ketegangan yang panjang. Ada Reformasi 1998 yang mengubah arah perjalanan bangsa. Setelah itu muncul berbagai demonstrasi lain yang silih berganti, termasuk pada 2019 hingga hari ini. Nama pemerintah boleh berubah, wajah para pemimpin boleh berganti, tetapi satu hal tampaknya tetap sama: mahasiswa selalu kembali memenuhi jalan ketika mereka merasa ruang untuk didengar mulai menyempit.
Lalu saya bertanya kepada diri sendiri, mengapa sejarah seperti gemar mengulang adegan yang sama?
Apakah benar demonstrasi yang terus berulang menandakan mahasiswa terlalu gemar turun ke jalan? Ataukah justru ia memperlihatkan bahwa persoalan-persoalan yang melatarbelakanginya belum pernah selesai sepenuhnya?
Barangkali kita terlalu sering menganggap pergantian pemerintahan sebagai akhir dari seluruh persoalan. Padahal sebuah bangsa tidak berubah hanya karena nama pemimpinnya berganti. Institusi memiliki ingatan yang jauh lebih panjang daripada masa jabatan. Kebijakan juga meninggalkan jejak yang tidak selalu dapat diperbaiki dalam hitungan bulan atau satu periode kekuasaan. Karena itu, ada persoalan yang terus berpindah dari satu pemerintahan kepada pemerintahan berikutnya, diwariskan seperti pekerjaan rumah yang tak pernah benar-benar selesai dikerjakan.
Namun saya juga merasa, pertanyaan ini tidak hanya layak diajukan kepada negara.
Ia juga patut diajukan kepada gerakan mahasiswa itu sendiri.
Setiap demonstrasi melahirkan pengalaman. Setiap pengalaman melahirkan pelajaran. Akan tetapi, mengapa begitu banyak pelajaran yang seolah ikut hilang setelah kerumunan membubarkan diri?
Kita sering mewarisi cerita tentang keberanian, tetapi lebih jarang mewarisi pengetahuan mengenai bagaimana keberanian itu dibangun. Kita mengenang foto-foto demonstrasi, tetapi tidak selalu menemukan risalah diskusi, catatan strategi, evaluasi gerakan, ataupun kajian kebijakan yang pernah menjadi dasar perjuangannya. Ketika kepengurusan organisasi berganti, ingatan kolektif pun perlahan memudar. Generasi berikutnya kembali memulai dari titik yang hampir sama, mengulang pertanyaan yang pernah diajukan pendahulunya.
Bukankah sebuah gerakan juga membutuhkan ingatan, sebagaimana manusia membutuhkan sejarah untuk mengenali dirinya sendiri?
Tanpa dokumentasi yang hidup, demonstrasi mudah berubah menjadi romantisme. Yang dikenang hanyalah keberanian memenuhi jalan raya, sementara proses berpikir yang melahirkannya perlahan menghilang. Padahal perubahan yang bertahan lama tidak hanya lahir dari keberanian berdiri di depan barikade, tetapi juga dari kesanggupan merawat gagasan setelah keramaian usai.
Di titik inilah saya merasa demonstrasi seharusnya tidak dipahami sebagai lawan dari dialog. Keduanya justru lahir dari kebutuhan yang sama, yaitu keinginan agar persoalan memperoleh penyelesaian. Demonstrasi menjadi besar ketika ruang-ruang percakapan kehilangan kepercayaan. Sebaliknya, dialog hanya akan bermakna apabila ia benar-benar bersedia mendengar, bukan sekadar memberi kesan bahwa masyarakat telah diajak berbicara.
Pada akhirnya, ukuran sebuah gerakan tidak hanya ditentukan oleh seberapa penuh jalan raya dipadati massa, tetapi juga oleh seberapa lama gagasannya mampu hidup setelah orang-orang kembali ke rumah masing-masing. Begitu pula ukuran sebuah negara tidak hanya terletak pada kemampuannya menjaga ketertiban, melainkan pada kesediaannya mendengar kegelisahan sebelum ia berubah menjadi suara yang bergema di jalanan.
Mungkin karena itulah saya selalu percaya, demonstrasi tidak pernah lahir dari jalanan. Ia lahir jauh sebelumnya. Di kepala yang tak lagi mampu menerima pembungkaman, di ruang-ruang diskusi yang dipenuhi pertanyaan, dan di hati orang-orang yang masih percaya bahwa suara mereka layak didengar sebelum sejarah kembali mengulang dirinya sendiri.
Tentang Penulis
Pranoto Jiwo merupakan praktisi penerbitan dan percetakan yang juga berperan sebagai penulis dan kurator.

Posting Komentar