Migrasi dan Rapuhnya Kontrak Sosial dalam Pembangunan Indonesia
![]() |
| Gambar: Migrasi tidak lagi sekadar perpindahan tempat tinggal, melainkan cerminan rapuhnya kontrak sosial ketika pembangunan gagal menghadirkan rasa aman dan masa depan yang layak. |
Ritus & Langgam, Wacana — Pembangunan Indonesia dalam dua dekade terakhir kerap dibaca sebagai kisah keberhasilan. Stabilitas makroekonomi, ekspansi infrastruktur, dan pertumbuhan di berbagai kota dipandang sebagai capaian besar. Namun, di balik keberhasilan tersebut, muncul gejala yang lebih sunyi sekaligus menentukan. Semakin banyak warga merancang hidupnya tanpa rencana untuk menetap. Migrasi tidak lagi dipahami sebagai mobilitas untuk meningkatkan taraf hidup, melainkan sebagai pilihan rasional untuk keluar dari sistem yang tidak lagi mampu menjanjikan kelayakan hidup dalam jangka panjang.
Kota-kota tumbuh stabil secara statistik, tetapi menyempit secara sosial. Perumahan beralih fungsi dari ruang hidup menjadi aset spekulatif. Harga naik lebih cepat daripada upah, waktu habis di perjalanan, dan beban pajak meluas tanpa diimbangi perlindungan sosial yang setara. Dalam kondisi demikian, stabilitas tidak lagi dirasakan sebagai rasa aman, melainkan sebagai tekanan. Warga tidak terusir secara fisik, tetapi secara ekonomi melalui mekanisme harga yang dingin dan sah secara hukum.
Dalam pemikiran Albert O. Hirschman, ketika voice tidak lagi efektif, masyarakat cenderung memilih exit. Migrasi menjadi bentuk perlawanan yang sunyi, tanpa protes, tanpa tuntutan, dan tanpa konflik terbuka. David Harvey membaca dinamika semacam ini sebagai accumulation by dispossession, yakni pertumbuhan yang dibangun dengan mengorbankan akses warga terhadap ruang dan sumber daya. Sementara itu, Zygmunt Bauman menyebutnya sebagai liquid modernity, ketika manusia terus bergerak bukan karena bebas, melainkan karena tidak pernah benar-benar aman untuk berhenti. Achille Mbembe kemudian menunjukkan bahwa masyarakat di Global South hidup dalam kondisi serba sementara. Masa depan terus ditunda dan dipindahkan ke tempat lain.
Di Indonesia, kondisi tersebut paling nyata terlihat pada kelas menengah yang rapuh. Mereka merupakan kelas transisi yang hidup dengan kontrak kerja jangka pendek, cicilan jangka panjang, dan perlindungan sosial yang minim. Tidak cukup miskin untuk menjadi prioritas kebijakan, tetapi juga tidak cukup mapan untuk merasa aman, mereka merespons keadaan dengan mobilitas, seperti berpindah kota, berganti sektor pekerjaan, bahkan meninggalkan negara. Loyalitas politik dan keterlibatan dalam ruang publik pun perlahan melemah, bukan karena apatisme, melainkan sebagai pilihan yang rasional.
Dari situ lahirlah apa yang dapat disebut sebagai neo-nomadisme, yaitu cara hidup yang bersifat sementara, fleksibel, dan minim keterikatan. Neo-nomadisme bukanlah gambaran masa depan yang ideal, melainkan strategi untuk bertahan hidup. Pola ini menguntungkan korporasi global yang membutuhkan tenaga kerja fleksibel, tetapi dalam jangka panjang merugikan negara yang kehilangan keterikatan warganya. Pendidikan menjadi investasi yang bocor, kota berubah menjadi ruang transit, dan pertumbuhan berlangsung tanpa melahirkan rasa memiliki.
Bagi negara-negara Global South, termasuk Indonesia, kondisi ini bukanlah kegagalan individu, melainkan persoalan struktural. Sebagaimana dikemukakan Samir Amin, pembangunan di negara-negara periferal cenderung melayani kepentingan pusat sistem global, bukan kebutuhan manusianya sendiri. Migrasi hari ini tidak lagi semata-mata lahir dari impian akan kehidupan yang lebih baik, melainkan menjadi sinyal bahwa kontrak sosial tidak lagi dipercaya. Negara jarang melemah karena pemberontakan terbuka. Lebih sering, negara menjadi rapuh ketika warganya berhenti membayangkan masa depan mereka di dalamnya.
Tentang Penulis
Deden Sujana atau yang akrab disapa Deden, merupakan lulusan Manajemen dari Universitas Cokroaminoto Yogyakarta yang berasal dari Terang. Semasa kuliah, ia dikenal sebagai mahasiswa aktif yang memiliki kegemaran membaca dan menulis cerpen. Buku pertama yang ia baca saat mulai berkuliah adalah novel Pejalan Anarki karya Jazuli Imam. Selain aktif dalam berbagai organisasi, baik intra maupun ekstra kampus, ia juga konsisten mengembangkan minatnya di bidang literasi sejak pertama kali bersentuhan dengan dunia bacaan tersebut.

Posting Komentar